Fenomena Sinkhole: Ancaman Alam yang Mengintai di Bawah Kaki Kita
Penulis
Fenomena sinkhole telah menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat dan ilmuwan. Sinkhole, atau lubang raksasa, merupakan fenomena alam yang dapat mengancam keamanan dan keselamatan masyarakat. Baru-baru ini, sebuah lubang raksasa muncul di lahan persawahan milik warga di Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat.
Mengutip penjelasan Ahli Geologi dan Mitigasi Bencana Geologi dan Vulkanologi, Ade Edward, fenomena sinkhole kerap terjadi di daerah batu kapur seperti di Nagari Situjuah Batua. Kawasan ini merupakan kawasan batu kapur yang tertutup oleh material erupsi Gunung Sago, dan umumnya dikelola oleh masyarakat setempat sebagai lahan pertanian.
Apa itu Sinkhole?
Sinkhole, atau lubang runtuhan, adalah cekungan di tanah yang tidak memiliki drainase permukaan eksternal yang alami. Umumnya, ketika terjadi hujan, air tetap berada di dalam sinkhole dan biasanya mengalir ke bawah permukaan. Sinkhole paling umum terjadi di daerah yang oleh para ahli geologi disebut "daerah karst", yaitu wilayah di mana jenis batuan di bawah permukaan tanah dapat secara alami larut oleh air tanah yang bersirkulasi di dalamnya.
Penyebab Terjadinya Sinkhole
Sinkhole bukan sekadar fenomena alam yang terjadi begitu saja. Ada faktor manusia yang turut berkontribusi, seperti eksploitasi air tanah secara berlebihan, perencanaan tata kota yang kurang memperhitungkan kondisi geologi, serta perubahan iklim yang mengubah pola hidrologi tanah. Sinkhole dapat terbentuk melalui dua mekanisme utama, yaitu solution sinkhole dan collapse sinkhole.
Solution sinkhole berkembang secara perlahan akibat proses pelarutan batu kapur oleh air yang bersifat asam, yang dalam jangka waktu panjang menciptakan rongga bawah tanah yang semakin besar. Collapse sinkhole terjadi secara tiba-tiba ketika atap rongga bawah tanah tidak lagi mampu menahan beban di atasnya, sehingga runtuh dan membentuk lubang besar di permukaan tanah.
Cara Mencegah Sinkhole
Sinkhole atau lubang runtuhan bisa menjadi ancaman serius, terutama di kawasan Karst. Untuk mengatasinya, perlu langkah mitigasi sebagai berikut. Pengelolaan air tanah yang bijak, pemantauan struktur bawah tanah dengan teknologi seperti georadar, serta desain infrastruktur yang adaptif menjadi strategi utama. Selain itu, edukasi masyarakat sangat penting agar pemanfaatan kawasan, khususnya wilayah Karst, lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Pembangunan infrastruktur di kawasan bentang alam Karst (KBAK) sebaiknya dihindari karena bisa memperparah risiko amblesan. Namun, jika pembangunan tidak dapat dihindari karena kebutuhan strategis nasional, harus ada kajian mendalam terlebih dahulu. Studi geologi detail, analisis hidrogeologi Karst, serta evaluasi risiko bencana menjadi syarat utama sebelum proyek dilaksanakan. Pemantauan lingkungan juga harus dilakukan secara berkelanjutan.
Admin
Penulis di Ngabari